download powerpoin SISTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS gratis (LUPUS)

assalamualaikum..wr...wb..

pada kesempatan kali ini admin akan membagikan powerpoin tentang SISTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS yang mana power poin ini menjelaskan tentang penyakit lupus,

isi dalam power poin ini mencakup :

1. pengertian
2. etiologi
3. tanda dan gejala
4. terapi non farmakologis
5. terapi farmakologis

dan juga penjelasannya...

berikut adalah tampilan power poinnya yang saya bagikan untuk anda..




jika anda membutuhkan saya akan berikan pada kawan semua, yang link downloadnya saya letakkan di bawah artikel.

semoga saja yang saya bagikan ini bisa jadi sesuatu yang bermanfaat bagi kawan kawan semua.

berikut adalah link downloadnya.




itulah yang saya bagikan pada hari ini. semoga bermanfaat.

wassalam.......

Tuberkulosis Paru (TBC)



tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi akibat Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru, dengan gejala yang sangat bervariasi.

PENYEBAB
    penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis.

      penting untuk diperhatikan bahwa janin bisa tertular tuberkulosis dari ibunya selama masih dalam kandungan, sebelum, atau selama persalinan berlangsung (karena menghirup atau menelan cairan ketuban yang terinfeksi), atau setelah lahir ( karna menghirup udara yang terkontaminasi oleh percikan ludah yang yang terinfeksi. jika tidak diobati dengan antibiotik atau tidak divaksinansi, maka sekitar 50% bayi yang ibunya merupakan penderita tuberkulosis akan menderita penyakit ini pada tahun pertamanya.

GEJALA
     Gejala yang timbul pada bayi dan anak berupa :

  • demam
  • tampak mengantuk
  • tidak kuat mengisap
  • gangguan pernapasan
  • gagal berkembang (tidak menjadi penambahan berat badan)
  • pembesaran hati dan limpa karena organ ini menyaring bakteri tuberkulosis sehingga menyebabkan aktivasi sel-sel darah putih
sementara itu, gejala tuberkulosis yang timbul pada orang dewasa berupa :

  • batuk lebih dari 4 minggu, dengan atau tanpa dahat (sputum)
  • lemas
  • timbul gejala flu
  • berkeringat pada malam hari
  •  berat badan turun
  • demam ringan
  • nyeri dibagian dada
  • batuk darah


DIGNOSIS
diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

   gambaran gejala klinis TB paru berupa :
  • tahap asimtomatis
  • timbul gejala TB yang khas, kemudian stagnasi dan regresi
  • kakambuhan / feksaserbasi yang memburuk
  • gejala berulang dan menjadi kronis
pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :
  • terdapat sekret disaluran napas dan ronki
  • tanda-tamda infiltrasi: suara napas yang redup, ronki basah
  • tanda-tanda adanya penarikan paru, diafragma, dan mediastinum dada
pada pemeriksaan laburatorium :

pemeriksaan darah rutin memperlihatkan bahwa laju endap darah/LED normal atau meningkat, serta terjadi limfositosis (limfosit tinggi).

pada foto toraks :
  • terdapat gambaran lesi dibagian atas paru atau segmen apikal lobus bawah
  • gambaran berawan (patcby) atau bercak (nodular) 
  • adanya kavitas tunggal atau ganda
  • adanya pengapuran atau kalsifikasi paru
  • gambaran menetap pada pemeriksaan beberapa minggu kemudian
  • gambaran milier
pemeriksaan dahak (sputum):
pemeriksaan sputum terhadap basil tahan asam (BTA) yang positif memastikan diagnosis TB paru.
namun pemeriksaan ini kurang sensitif karena hanya mendeteksi sekitar 30 hingga 70%

Tes PAP (peroksidase anti peroksidase)
tes ini merupakan uji serologi imunoperoksidase menggunakan alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya imunoglobulin G (IgG) spesifik terhadap basil TB.

tes tuberkulin / mantoux
1. TB paru
  • BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks TB, gejala klinis sesuai TB 
  • BTA mikroskopis langsung atau biakan (-), tetapi kelainan foto toraks dan gejala klinis sesuai TB, dan memberikan respons positif terhadap pengobatan awal TB, 
2. TB paru tersangka
     pemeriksaan BTA negatif atau belum ada, hasil atau proses pemeriksaan belum lengkap tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai dengan TB paru. pengobatan dengan anti-TB sudah dapat dimulai.
3. bekas TB (tidak sakit)
    terdapat riwayat TB dimasa lalu dengan atau tanpa pengobatan, gambaran rotgen norman atau abnornal, tetapi hasil foto serial stabil dan sputum BTA (-). keadaan ini tidak perlu diobati.

Baca juga
PENGOBATAN
   penanganannya dilakukan dengan memberikan obat anti TB (OAT). OAT harus diberikan dalam kombinasi setidaknya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga.

     adapun OAT yang dapat diberikan :
  • bersifat bakterisid (membunuh kuman) isoniazid (INH), rifampisin (R), pirazinamid (z), streptomisin (s)
  • bersifat bakteriostatik (menghambat perkembangan kuman ):etambutol (E)
selain obat obat tersebut diatas, ada obat TB pilihan kedua yaang terdiri dari:
  • aminoglikosida lain (contoh amikasin, kanamisin)
  • golongan tionamid
  • fluokuinolon
  • slikoserin
  • asam paraamino salisilat (PAS)
PENGOBATAN PADA BAYI DAN WANITA HAMIL
jika seseorang wanita hamil menunjukkan hasil tes yang positif tetapi tanpa gejala dan hasil rotgen dadanya normal, maka akan diberikan isoniazid. namun pengobatan ini biasanya baru deberikan pada trisemester ketiga atau setelah persalinan karena adanya resiko kerusakan hatipada wanita hamil.
   jika seorang wanita hamil menunjukkan adanya gejala, maka dokter akan memberikan OAT isoniazid, pirazinamid, dan rifampisin . selama ibu masih bisa menularkan penyakitnya, bayi  tidak boleh dirawat atau berada didekat ibu. sebagai tindakan pencegahan, maka bayi akan diberikan isoniazid. sementara itu, bayi yang menderita tuberkulosis akan diberikan isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid. jika infeksi sudah sampai ke otak, maka dokter akan memberikan kortikosteroid.

TERAPI PEMBEDAHAN
indikasi mutlak pembedahan :
  • semua pasien yang telah mendapat OAT adekuat tetapi sputum tetap positif
  • pasien batuk darah masif yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif
  • pasien dengan fustala bronkopleura dan empiema yang tidak dapt diatasi dengan cara konservatif
selain itu,ada pula indikasi relatif pembedahan yag berlaku pada :
  • pasien dengan sputum negatif dan batuk darah yang berulang
  • pasien dengan kerusakan 1 paru atau lobus dengan keluhan 
  • sisa kavitas yang menetap


PENCEGAHAN
tes tuberkolosis akan dilakukan secara rutin pada ibu hamil. hasil yang positif sebaiknya diikuti dengan pemeriksaan rotgen dada. tes tuberkulin sering kali dilakukan pada bayi yang ibunya memberikan hasil tes positif.
jika seseorang diduga mederita tuberkulosis, maka akan dilakukan pembiakan cairan serebrospinal, cairan dari saluran pernapasan dan cairan lambung. untuk mengetahui adanya infeksi pada pru-paru, maka akan dilakukan rotgen dada. sementara itu, biopsi hati, kelenjar getah bening, atau paru paru dilakukan untuk memperkuat diagnosis.

Kenali penyakit sinusitis


Sinusitis adalah suatu infeksi yang mengenai daerah sinus atau rongga udara di daerah muka, hidung, dan dahi. Sinusitis bisa bersifat akut, bila berlangsung selama 3 minggu atau kurang, atau kronis, bila berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat berlanjut hingga berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.


Penyebab
Penyebab sinusitis akut adalah:
+Infeksi virus
   Sinusitis akut bisa terjadi setelah terbentuknya suatu infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas (misalnya flu, pilck).
+Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak berbahaya (misalnya streptocoaus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Namun jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase. sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus sehingga terjadi infeksi sinus akut.
+Infeksi jamur
kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut, contohnya jamur Aspergillus. Aspergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan, atau bisa juga sinusitis terjadi sebagai reaksi alergi terhadap jamur.
+Komplikasi peradangan yang lama
Beberapa keadaan peradangan yang berlangsung lama karena reaksi alergi dapat menyebabkan sinusitis. Pada penderita rinitis
alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnya pada penderita rinitis vasomotor.
+penyakit tertentu
Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan penderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik)
Sementara itu penyebab sinusitis kronis:
-Asma
-Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika)
-Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.
Gejala
Gejala khas kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun tidur sinusitis akut dan kronis memiliki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan pembengkakan da sinus yang terserang penyakit ini, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus yang diserang
+Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi, dan sakit kepala
+Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan di antara mata, serta sakit kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung ditekan, berkurangnya indra penciuman, dan hidung tersumbat.
+Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan maupun belakang, terkadang menyebabkan sakit pada bagian telinga dan leher.
+Selain itu, gejala seperti tidak enak badan, letih, lesu, batuk yang bisa memburuk pada malam hari, hidung meler atau tersumbat, demam dan menggigil orang mengindikasikan bahwa infeksi telah menyebar ke luar sinus), serta selaput lend hidung tampak merah, membengkak, dan bisa mengeluarkan nanah berwarna kuning atau hijau.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala yang muncul, rontgen sinus, dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk menentukan luas dan beratnya sinusitis, bisa dilakukan pemeriksaan CT scan. Pada sinusitis mak silaris dapat dilakukan pemeriksaan rontgen gigi un tuk mengetahui adanya abses gigi.


Baca juga
Pengobatan
Untuk sinusitis akut biasanya diberikan:
+Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan
+Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri
+obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri
Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh dipakai selama waktu yang terbatas, karena pemakaian dalam kurun waktu yang panjang bisa menyebabkan penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidun Untuk mengurangi penyumbatan, pembengkakan, dan peradangan bisa diberikan obat semprot hidung yang mengandung steroid.
Sinusitis kronis
Untuk mengatasi sinusitis kronis maka akan diberikan antibiotik dan dekongestan. Untuk mengurangi peradangan biasanya diberikan obat semprot hidung yang mengandung steroid. Jika sinusitis tergolong berat, maka akan diberikan steroid per oral.
Hal-hal berikut dapat dilakukan untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang timbul akibat sinusi tis:
+Menghirup uap dari sebuah uporivr atau semangkuk air panas
+Obat semprot hidung yang mengandung larutan garam +Kompres hangat di daerah sinus yang terkena
Jika tidak dapat diatasi dengan pengobatan tersebut, maka satu-satunya jalan untuk mengobati sinusitis kronis adalah melalui pembedahan. Teknik pembedahan yang sekarang ini banyak dilakukan adalah pembedahan sinus endoskopik fungsional.
   Pada anak-anak, keadaannya sering kali membaik setelah dilakukan pengangkatan adenoid yang menyumbat saluran sinus ke hidung, Pada penderita dewasa yang juga memiliki alergi kadang ditemukan polip pada hidungnya. Pol tersebut sebaiknya diangkat sehingga saluran udara terbuka dan gejala sinus berkurang.

Pelayanan Gizi Pasien Rawat inap dan Rawat Jalan

Pelayanan Gizi Pasien Rawat inap dan Rawat Jalan

Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) merupakan bagian integral dan kesehatan Paripurna Rumah Sakit dengan beberapa kegiatan, antara lain Gizi Rawat inap dan Rawat Jalan. Pelayanan Gizi Rawat inap dan Rawat jalan adaIah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan melalui makanan sesuai penyakit yang diderita.


1 . 1 Proses Pelayanan Gizi Rawat map dan Rawat Jalan 
Proses Pelayanan Gizi Rawat inap dan Rawat Jalan terdiri atas empat tahap, yaitu: 
(1) asesmen atau pengkajian gizi; (2) perencanaan pelayanan gizi dengan menetapkan tujuan dan strategi; (3) implementasi pelayanan gizi sesuai rencana; (4) monitoring dan evaluasi pelayanan gizi. Proses pelayanan gizi rawat inap dan rawat jalan dapat dilihat pada Gambar 1.1


1.1.1       1.1.1  Asesmen atau Pengkajian Gizi
Setelah pasien dirawat selama 1 sampai 3 hari atau mengunjungi klinik rawat jalan. perlu dilakukan asesmen awal atau Skrining kepada pasien untuk mengetahui apakah ia membutuhkan asuhan gizi secara khusus. Skrining ini dilakukan sekali dalam I sampai 2 minggu untuk rnencegah terjadinya keadaan gizi salah 
Skrining gizi dapat dilakukan dengan cepat dan sederhana oleh perawat atau di etisien. Yang perlu diperhatikan adalah ada tidakna riwayat. Perubahan berat badan yang berarti. Perubahan berat badan sebanyak lebih dan ±10% dalam waktu singkat


menyatakan diperlukanny a asesmen lanjut . Informasi yang perlu dikumpulkan dalam asesmen awal mi dapat dilihat pada Tabel 1.1, sedangkan contoh formulir pada Lampiran 1.1. Data asesmen awal dapat cliambil dari rekam medik dan/atau sebagai hasil wawancara Iangsung dengan pasien. Asesmen lanjut dilakukan kepada pasien yang membutuhkan pelayanan gizi secara khusus. Data yang dikumpulkan adalah data sosial ekonomi, antropometri, laboratorium, riwayat kuantitatif gizi, dan hasil pemeriksaan klinik . hasil asesmen yang berupa masalah gizi dan saran dikomunikasikan kepada anggota tim asuhan gizi lain secara lisan dan/atau tertulis di dalam rekam medik.
a. Data sosial ekonomi
-Latar belakang suku, agama, dan sebagainya.
-Keadaan ekonomi.
Data ini dikaitkan dengan status gizi pasien.
b. Data antropometri
-Berat Badan, Tinggi Badan, Berat Badan Ideal menurut indeks
Massa Tubuh (IMT), Dan perubahan berat badan yang
Tebal Lemak Bawah Kulit  (triseps dan subskapular)
Lingkar Lengan Atas (LLA)
C. Data laboratorium
-Biokimia darah, urine, dan jaringana yang berkaitan dengan status protein, zat besi, gula, penyakit ginjal, hati, jantung, dan sebaginya.

d. Data medik
-Riwayat medik: kemungkinan pengaruh penyakit yang lalu, terapi, pembedahan, radiasi, kemoterapi atau tindakan lain terhadap kebutuhan, asupan, pencernaan, absorpsi, dan metabolisme zat gizi.
-Hasil pemeriksaan yang berkaitan hal-hal yang dapat mempengaruhi status gizi.
e. Data riwayat gizi atau diet
- Food recall 24 jam terakhir.
- Frekuensi konsumsi makanan
- Catatan konsumsi makanan selama 3 hari
- Penggunaan suplemen zat gizi
- Pengetahuan tentang gizi
- Sikap terhadap makanan
- Alergi terhadap makanan
- Aktivitas fisik
- Penggunaan obat
Data gizi kemudian disimpulkan dalam bentuk kecukupan
sesuai kebutahan dan masalah lain yang ditemukan berkaitan
Contoh formulir pengumpulan data gizi dapat dilihat pada
1.1.2  Perencanaan Pelayanan Gizi Rawat inap dan Rawat Jalan
Berdasarkan masalah gizi yang diidentifikasi melalui tahap asesmen maka ditetapkan rencana pelayanan gizi yang meliputi penetapan diet (preskripsi diet), tujuan diet, dan strategi mencapai tujuan.
Contoh: Pasien Diabetes Melitus dengan kelebihan berat badan.
Tujuannya adalah untuk :
(1) Menurunkan glukosa darah hingga mencapai batas normal dalam waktu 1 bulan.
(2) Menurunkan berat badan secara bertahap hingga mencapai batas normal dalam waktu 3 bulan.
(3) Mampu memilih jenis dan jumlah makanan yang sesuai dengan kebutuhan.
Strategi yang dilakukan adalah menetapkan preskripsi diet yang tepat; menyediakan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi, selera makan, dan kemampuan pasien untuk menerimanya (hanya bagi pasien rawat inap); memberikan penyuluhan dan konsultasi diet termasuk cara penerapan diet dirumah pada pasien dan keluarganya. Rencana diet mencakup makanan yang diberikan per oral, enternal, dan parenteral.

Preskripsi diet menyatakan jenis diet seperti yang tercantu  dalam Penuntun Diet. Dalam keadaan khusus, diet disusun secara individual dengan mencantumkan kebutuhan energi dan zat-zat gizi, bentuk makanan, frekuensi dan jadwal pemberian, serta besar porsi. Selain diolah sendiri, makanan dapat diolah dan formula-formula khusus yang diperoleh dan makanan kemasan yang banyak beredar di pasaran.


1.1.3 Implementasi Pelayanan Gizi
Implementasi pelayanan gizi hendaknya sesuai dengan rencana yang disusun dalam hal penyediaan diet yang tepat secara oral, enteral, atau parenteral pengukuran biokimia darah dan urine yang diperlukan, pengukuran antropometri, serta penyuluhan dan konsultasi gizi yang sesuai.


1.1.4 Monitoring Jan Evaluasi

implementasi pelayanin gizi dimonitor dan dievaluasi yaitu nilai biokimia darah dan urin, antropometri, asupan makanan, perkembangan penyakit secara keseluruhan, sikap terhadap makanan, dan pengetahuan tentang diet yang harus dijalani. 
Bila hasil evaluasi menunjukkan bahwa tujuan tidak tercapai, atau timbul masalah baru, maka dilakukan peninjauan kembali terhadap tiap tahap proses pelayanan gizi pasien rawat inap dan rawat jalan. 
Tatalaksana gizi di ruang rawat inap dan rawat jalan secara lengkap yang disusun oleh Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI).

1.2 Pelayanan Kesehatan Paripurna di Rumah Sakit
Pada pelayanan kesehatan paripurna di rumah sakit, terlibat tiga jenis asuhan (care) yang pelaksanaannya dilakukan melalui kegiatan pelayanan (service). 
Ketiga jenis asuhan ini adalah: 
(1) Asuhan Medik (Medical Care) (pengobatan, pembedahan, dan sebagainya). 
(2) Asuhan Keperawatan (Nursing Care) (berbagai kegiatan perawatan) 
(3) Asuhan Gizi (Nutritional Care) (pemberian zat gizi optimal sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien)


Ketiga jenis asuhan tersebut mempUflY peranan masing-masing tapi Saling terkait dan berpengaruh.
1.2.1 Asuban Gizi
Dalam upaya pernenuhan zat gizi yang optimal pada pelaksanaan asuhan gizi diperlukan keterlibatan dan kerjasama yang erat antar berbagai profesi terkait yang bergabung dalam tim asuhan gizi. Profesi yang terlibat adalah dokter, perawat, dietisien, dan profesi kesehatan lainnya sebagal pendukung seperti farmakolog, ahli patologi kilnik, radiologi, rekam medik, dan administrasi. Tiap anggota tim memberi sumbangan spesifik sesuat dengan keahliannya, yang di terapkan saling mengisi dalam upaya memberikan asuhan gizi yang optimal. Agar efektif, diperlukan koordinasi yang baik melalui komunikasi secara teratur, baik secara tertulis melalui rekam medik , secara lisan melalui diskusi sewaktu waktu, atau melalui kunjungan keliling (ronde) bersama yang dilakukan secara periodik. Tim asuhan gizi ini dibentuk di setiap unit rawat inap.
Upaya pemenuhan kebutuhan gizi untuk pasien rawat inap dilakukan melalui pelayanan gizi dengan penyediaan makanan atau diet. Bagi sejumlah pasien dengan penyakit berat (critically ill patients), upaya pelayanan gizi tersebut tidak dapat dilaksanakan, karena berbagai keterbatasan pada penerimaan, pencernaan, dan penyerapan berbagai makanan (zat gizi). Untuk pasien demikian, diperlukan pelayanan gizi dengan pemberian makanan enteral (enteral feeding) atau makanan parenteral (parenteral feeding) yang dikenal sebagai pemberian gizi pendukung (nutritional support) . Selain itu, mungkin diperlukan pemberian zat gizi pelengkap (suplemen) dalam bentuk beraneka jenis vitamin dan mineral.
Peranan beberapa anggota tim asuhan gizi adalah sebagai berikut:
(1)   Dokter
Dokter berperan sebagai ketua tim asuhan gizi, yang bertanggung jawab atas pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Ia menegakkan diagnosa dan menetapkan terapi secara keseluruhan, member penilaian akhir tentang status gizi pasien, menetapkan preskripsi diet, dalam mengirim pasien ke dietisien untuk penyuluhan dan konsultasi gizi. Ia melakukan evaluasi tentang pelayanan gizi yang diberikan berdasarkan masukan dari dietisient dan perawat serta melakukan perubahan diet bila diperlukan.

(2) Perawat
Perawat merupakan penghubung utama antara pasien dengan anggota tim lain, karena adanya kontak Secara terus-menerus dengan pasien. Ia melakukan pemesanan makanan atau diet ke dapur sesuai preskripsi diet yang sudah ditetapkan. Ia mengamati pasien sewaktu makan, melaporkan tentang penerimaan pasien terhadap diet yang diberikan, apakah habis dimakan atau tidak, kemungkinan adanya masalah dengan defekasi atau hal-hal lain yang berkaitan dengan makanan atau diet yang diberikan. Ia bertanggung jawab dalam pemberian makanan per oral, enteral, maupun parenteral, dan memberi laporan secara lisan dan/atau tertulis tentang kemungkinan akibat yang kurang baik karena pemberian makanan tersebut. Ia memberi penjelasan secara garis besar kepada pasien dan keluarganya tentang makanan atau diet yang diberikan.
(2)   Dietisien
Dietisien adalah orang yang mempunyai keahlian khusus tentang hubungan antara makanan, zat-zat gizi, kesehatan, dan penyakit. Ia mengkaji asupan makanan dan zat-zat gizi pasien serta kemungkinan hubungannya dengan keadan kesehatan dan penyakit pasien. Berdasarkan hasil pengkajian (asesmen) status gizi pasien, ia memberi masukan kepada dokter tentang kemungkinan terapi diet yang perlu diberikan. Ia bertanggung jawab dalam menerjemahkan preskripsi diet ke dalarn menu makanan yang memenuhi syarat diet serta selera makan sehingga dapat diterima pasien, baik dalam bentuk makanan per oral atau enteral (sonde). Ia rnelakukan monitoring dan evaluasi terhadap efek diet yang diberikan, baik secara oral, enteral, maupun parenteral, dan mengkomunikasikannya secara lisan dan/atau tulisan ke anggota tim lain. Ia memberikan masukan kepada dokter tentang produk-produk diet atau suplemen gizi yang ada di pasaran, baik yang berkaitan dengan ketersediaan, komposisi, kegunaan dan kesesuaiannya untuk keadaan tertentu. Ia juga memberi konsultasi dan penyuluhan diet kepada pasien dan keluarganya sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.
(4) Farmakolog
Farmakolog adaiah orang yang bertanggung jawab terbadap obat-obatan dan cairan parenteral yang dibutuhkan. Ia memberi masukan tentang sifat-sitat farmakokinetik obat, metabolisme obat, interiksi antara obat dengan obat, serta interaksi antara obat dengan zat gizi. Ia memberi masukan tentang produk-proroduk enteral dan parenteral yang ada di pasaran serta menyiapkan cairan parenteral yang ditetapkan ia melakukan monitoring dan evaluasi terhadap cairan parenteral pendukung yang digunakan dan mengusulkan perubahan bila perlu.

(5) ahli patoligi klinik
Ahli patologi klinik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pemeriksaan biokimiawi yang dilakukan terhadap pasien. Ia member masukan tentang jenis pemeriksaan yang perlu dilakukan, kebijakan monitoring, dan evaluasi terhadap hasil pemeriksaan biokimia.

1.3  komite atau panitia asuhan gizi rumah sakit
komite atau panitia asuhan gizi rumah sakit merupakan wadah yang mengarahkan, mengkoordinasi, dan mempersatukan kegiatan semua profesi yang terlibat dalam proses asuhan gizi, seperti prifesi kedokteran yang mewakili semua departemen kedokteran,profesi keperawatan, gizi atau dietisien, faarmasi, patologi klinik, rekam medic, dan rumah tangga.komite atau panitia ini diketuai oleh direktur rumah sakit. Tugas komite atau panitia asuhan gizi antara lain adalah:
1)      melakukan inventarisasi sistem dan masalah asuhan gizi yang ada.
2)      Menyusun prosedur baku pada pengkajian status gizi, tindakat terapi gizi, pemantauan, dan evaluasi asuhan gizi, serta petunjuk pelaksanaannya.
3)      Melakukan pemantauan dan evaluasi asuhan gizi
4)      Membantu menyelesaikan masalah asuhan gizi yang ada.


Sindrom gawat pernapasan akut

    sindrom Gawat Pernapasan Akut (Sindroma Ga wat Pernapasan Dewasa) adalah suatu jenis kega- galan paru-paru dengan berbagai kelainan, yang menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan di paru-paru (edema paru).
      Sindrom gawat pernapasan akut merupakan keadaan darurat medis yang dapat terjadi pada seseorang yang sebelumnya memiliki paru-paru yang normal. Sekalipun disebut sindrom gawat pernapasan akut dewasa, keadaan ini juga dapat terjadi pada anak-anak.


Penyebab
   Penyebab sindrom gawat pernapasan akut bisa penyakit apa pun, yang secara langsung maupun tidak melukai paru-paru, antara lain:
- Infeksi berat dan luar (sepsis)
-Pneumonia
-Tekanan darah yang sangat rendah (syok)
-Terhirupnya makanan ke dalam paru (menghirup muntahan dari lambung)
-Transfusi darah dalam jumlah banyak
-Kerusakan paru-paru karena menghirup oksigen konsentrasi tinggi
-Emboli paru
-Cedera pada dada
-Luka bakar hebat
-Tenggelam
-Operasi bypass kardiopulmoner
-Peradangan pankreas (pankreatitis)
-Overdosis obat, seperti heroin, metadon, propoksifen, atau aspirin
-Trauma hebat
Gejala
    sindrom gawat pernapasan akut terjadi dalam kurun waktu 24-48 jam setelah kelainan dasarnya berlangsung, Awalnya penderita akan mengalami sesak napas, biasanya berupa pernapasan yang cepat dan dangkal. Akibat rendahnya kadar oksigen dalam darah, kulit terlihat pucat atau biru, dan organ lain seperti jantung dan otak akan mengalami kelainan fungsi. Kehilangan oksigen yang berlangsung lama bisa menyebabkan terjadinya komplikasi yang serius, seperti gagal organ vital. Selain itu, gejala-gejala pneumonia bisa timbul karena penderita tidak mampu melawan infeksi; mereka biasanya menderita pneumonia bakterial Adapun gejala lainnya yang mungkin ditemukan:
-Cemas, merasa ajalnya hampir tiba
-Tekanan darah rendah atau syok (tekanan darah rendah disertai kegagalan organ lainnya)
-Penderita sering kali tidak mampu mengeluhkan gejalanya karena tampak sangat sakit
Diagnosis
     Pada pemeriksaan fisik dengan stetoskop akan terdengar bunyi pernapasan abnormal seperti ronki atau wheezing, Tekanan darah sering kali rendah sehingga kulit, bibir, serta kuku penderita tampak kebiruan (sianosis) akibat kekurangan oksigen. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan untuk mendiagnosis sindroma gawat pernapasan akut:
-Rontgen dada (menunjukkan adanya penimbunan cairan di tempat yang seharusnya terisi udara)
-Analisis gas darah arteri
-Hitung jenis darah dan kimia darah
-Bronkoskopi


Pengobatan
     Penderita yang terserang sindrom gawat pernapasan akut dirawat di unit perawatan intensif di rumah sakit. Pemberian oksigen sangat penting untuk mengoreksi kadar oksigen darah, sering kali diberikan oksigen dalam konsentrasi tinggi (mung kin diperlukan oksigen 100%).
     Bila pemberian oksigen dengan sungkup muka tidak berhasil mengatasi masalahnya, maka harus digunakan alat bantu pernapasan (ventilator). Ventilator menyalurkan oksigen menggunakan tekanan melalui pipa yang dimasukkan ke hidung, mulut, atau trakea. Tekanan ini membantu memasukkan oksigen ke dalam darah.
       Tekanan yang diberikan dapat disesuaikan untuk membantu saluran napas yang kecil (alveoli) tetap terbuka, juga untuk memastikan agar paru paru tidak menerima konsentrasi yang berlebihan karena hal tersebut dapat merusak paru-paru dan memperberat sindrom ini.
     Pengobatan suportif lainnya, seperti pemberian cairan atau makanan intravena (melalui infus), juga penting karena penderita bisa mengalami dehidrasi atau malnutrisi yang bisa mengarah pada berhentinya fungsi organ tubuh. Keadaan ini disebut sebagai kegagalan organ multipel.
     Obat-obatan khusus diberikan untuk mengobati infeksi, mengurangi peradangan, dan membuang cairan dari dalam paru-paru. Untuk infeksi bakteri diberikan antibiotik.
Prognosis
    Angka kematian cukup tinggi, bahkan bisa mencapai di atas 40%. Penderita yang bereaksi baik terhadap pengobatan, biasanya akan sembuh total, dengan atau tanpa kelainan paru-paru jangka panjang.
    Pada penderita yang menjalani terapi ventilator dalam waktu yang lama cenderung akan terbentuk jaringan parut di paru-parunya, tetapi jaringan parut tertentu akan membaik kembali beberapa bulan setelah ventilator dilepas.
Baca juga

Polip Hidung


Polip Hidung



Polip hidung adalah pertumbuhan selaput lendir hidung yang bersifat jinak.
Penyebab
Penyebab terjadinya polip tidak diketahui, tetapi sejumlah polip tumbuh Karena ada pembengkakan akibat infeksi. Adapun polip sering ditemukan pada penderita :
  • Rinitis alergika
  • Asma
  • Sinusitis kronis
  • Fibrosis kistik
Gejala
Polip biasanya tumbuh didaerah dimana selaput lendir membengkak akibat penimbunan cairan, seperti daerah disekitar lubang sinus pada rongga hidung. Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata, dan jika telah matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan.
Polip menyebabkan penyumbatan hidung, karena itu penderita sering kali mengeluh adanya penurunan fungsi indra penciuman. Karena indra perasa berhubungan dengan indra perciuman, maka penderita juga dapat mengalami penurunan fungsi indra perasa.
Polip hidung juga biasa menyebabkan penyumbatan pada drainase lendir dari sinus ke hidung. Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya lendir didalam sinus. Lendir yang terlalu lama berada dalam sinus bias mengalami infeksi, dan akhirnya menyebabkan terjadinya sinusitis. Pada anak-anak, polip akan menyebabkan suara menjadi sengau sehingga mereka harus bernapas melalui mulut.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan fisik.
Pengobatan
Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid dapat diberikan dan dapat memperkecil ukuran polip, bahkan menghilangkannya.
Pembedahan juga bias menjadi pilihan jika :

  •   Polip menghalangi saluran pernapasan
  •  Polip menghalangi saluran/ drainase sinus, yang sering menyebabkan terjadinya infeksi sinus
  •  Polip berhubungan dengan tumor

Polip cenderung tumbuh kembali jika penyebabnya (alergi maupun infeksi) tidak terkontrol atau tidak diobati. Pemakaian obat semprot hidung yang mengandung kartikosteroid bias memperlambat atau mencegah kekambuhan. Namun jika kekambuhan bersifat berat, sebaiknya dilakukan pembedahan intuk memperbaiki drainase sinus dan membuang jaringan yang terinfeksi.

penyakit pneumonia

Sumber gambar : www.emedicinehealth.com


pneumonia adalahpneumonia eradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, maupun jamur.

penyebab penyakit pneumonia
pneumonia disebabkan oleh :
  • bakteri (kebanyakan menyebabkan pneumonia pada orang dewasa), antara lain streptococcus pneumonia, stapbylococcus aureus, legionella, bemopbilus influenza.
  • virus, virus influenza, cacar air (cbicken pox)
  • organisme yang serupa dengan bakteri,micoplasma pneumonia (terutama menyerang pada anak anak dan dewasa muda)
  • jamur jenis tertentu 
adapun cara mikro organisme tersebut sampai ke paru-paru melalui :
  • inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara
  • aliran darah, dari infeksi di organ tubuh lainnya
  • migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru
faktor resiko penyakit pneumonia
      beberapa orang yang cenderung rentan terserang pneumonia :
  • peminum alkohol
  • perokok
  • penderita diabetes
  • penderita gagal jantung
  • penderita penyakit paru obstruktif menahun (PPOM)
  • gangguan sistem kekebalan karena obat tertentu (penderita kanker, penerima organ cangkokan,)
  • gangguan sistem kekebalan karena penyakit (penderita AIDS)
pneumonia juga bisa terjadi setelah pembedahan (terutama pembedahan dibagian perut)
atau cedera ( terutama di bagian dada ), sebagai akibat dari dangkalnya pernapasan, gangguan terhadap kemampuan batuk, serta lendir yang tertahan terutama oleh stapbylococcus aureus, pneumokokus, hemopbilus influenza, atau kombinasi ketiganya. 
          Pneumonia pada orang dewasa paling sering disebabkan oleh bakteri, dan kebanyak oleh bakteri streptococcus pneumoniae (pneumokokus). Sementara itu, pneuminia pada anak paling sering disebabkan oleh virus pernapasan an puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun. Pada usia sekolah. Pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri mycoplasma pneumoniae.
           Pneumonia dikelompokkan berdasarkan sejumlah sistem yang berlainan. Salah satu diantaranya adalah berdasarkan cara perolehannya, yang dapat digolongkan kedalam fua kategori, yaitu "community-acquired" (diperoleh diluar institusi kesehatan) dan "hospital-acquired" (diperoleh di rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya). Pneumonia yang didapat di luar institusi kesehatan kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumoniae. Pneumonia yang diperoleh dirumah sakit cenderung lebih serius karena pada saat menjalani perawatan dirumah sakit, sistem pertahanan tubuh penderita untuk melawan infeksi sering kali mengalami penurunan dan terdapat kemungkinan terjadinya infeksi oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik.


Gejala penyakit pneumonia 

        gejala gejala yang bisa mincul :

 » batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan, atau seperti nanah.
 » nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik napas dalam atau batuk).
 » menggigil
 » demam
 » mudah lelah
 » sesak napas
 » sakit kepala
 » nafsu makan berkurang
 » mual dan muntah
 » tidak enak badan
 » sendi dan otot kaku
 » kulit lembab
 » batuk darah
 » pernapasan cepat
 » cemas, stress, tegang
 » nyeri dibagian perut

Diagnosis penyakit pneumonia

        Pada pemeriksaan dada dengan stetoskop akan terdengar suara ronki (bunyi napas kasar). Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan :

 » rontgen dada
 » pembiakan darah
 » perhitungan jenis darah
 » analisis gas darah arteri


Pengobatan penyakit pneumonia

         Kepada penderita yang penyakitnya tidak tetlalu berat bisa diberikan antibiotik per-oral dan penderita harus beristirahat dirumah. Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak napas, penyakit, atau penyakit paru paru lainnya, harus dirawat dirumah sakit dan diberi antibiotik melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena, danalat bantu pernapasan mekanik. Sebaguan besar penderita akan memberikan respons tterhadap pengobatan dan keadaannya membaik m waktu 2 minggu.


Pencegahan penyakit pneumonia

         Untuk orang-orang yang rentan terserang pneumonia, disarankan untuk melakukan beberapa tindakan pencegahan, seperti latihan pernapasan dalam yang berguna untuk dapat membuang dahak. 
         Selain itu, vaksinasi dapat membantu mencegah sejumlah jenis pneumonia pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi menderitanya. Vaksinasi tersebut antaralain :

 » vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena streptococcus pneumoniae)
 » vaksin flu
 » vaksin HIB (untuk mencegah pneumonia karena haemopbilus influenzae type b)